Mata perempuan itu


Belakangan ini ada seorang perempuan yang membuatku penasaran. Seorang perempuan dengan aura yang 180derajat berbeda dengan auranya yang ku tahu dulu. Aura yang kontras berubah beberapa minggu belakangan ini. Aura yang menurutku ganjil di wajahnya, kelakuannya, di setiap geraknya. Kau akan setuju denganku kalau tau bagaimana perempuan ini. Beberapa kali pernah ku dengar dari beberapa orang tentang matanya, mata perempuan ini. Orang bilang, mata perempuan ini sulit di tebak, hanya kebahagian dan seolah matanya selalu berkata : lihatlah, dunia begitu mengasyikan, begitu menyenangkan. 
Dan mata itu, orang bilang ... selalu serasi dengan senyum dari bibir tipisnya. Mata itu selalu terlihat sangat menyenangkan dengan gelaktawanya. Mata itu seolah menyakinkan bahwa semua yang di rekam di mata tersebut tidak ada yang kelam, tidak gelap, tidak sunyi dan selalu ceria. Ya... mata itu .. mata perempuan itu.
Aku memperhatikannya belakangan ini, perempuan itu lebih sering terlihat menanggah ke atas, melihat langit, seperti mencari sesuatu, entah apa itu. aku sangat memperhatikannya, sangat. Sampai aku sadar, ada yang berbeda dengan dia belakangan ini. Ada yang berbeda dengan sikapnya. Ada yang mengganggu keyakinanku tentang keceriaannya. Aku tidak tahu itu apa, aku ingin tau tapi aku terlalu ragu untuk bertanya, jadi aku memutuskan untuk tetap memperhatikannya saja dari sini.
Kurasa, ia mulai terbiasa dengan banyak buku yang ia bawa, dulu, ia jarang serajin ini. Ku pikir ia mulai mengubah pola belajarnya, tingkatan ‘cupu’ nya menjadi ‘kutu buku’ . oh ya, perempuan ini sangat tidak menarik dari segala segi. Ia tidak memiliki badan yang semampai, tidak memiliki rambut yang bercahaya, tidak memiliki penampilan menarik, jadi wajar saja ia tergolong ‘cupu’ .
Dulu, ia tidak pernah terlepas dari handphone-nya, tapi sekarang handphone itu tidak sering terlihat di genggaman tangan kecilnya. Aku juga tidak pernah melihat ia berlari untuk masuk ke sekolah saat jam 7 lewat lagi. Aku lebih sering melihat dia diam. duduk, tidak melakukan apa-apa kecuali bernafas (ku rasa). Dan itulah sebabnya aku penasaran. Perempuan itu lebih terlihat sunyi, tidak banyak melakukan gerakan yang sangat-tidak-penting seperti yang biasa ia lakukan dulu. Aku masih terus memperhatikannya, memperhatikan matanya , dan gotcha!! Mata itu ! mata perempuan itu. beberapa kali ku dapatkan matanya tertutup, mencari kenyamanan dalam sepi, dan saat ia membuka kelopak matanya, mata itu seolah telanjang. Mata itu ... mata yang biasanya orang bilang ‘menyenangkan’ malah terlihat seperti kuburan, sepi. Aku semakin penasaran, ia menggosok-gosok kedua telapak tangannya secara perlahan, mungkin mencari kehangatan.
Aku mengambil pensilku dan buku yang selalu ku bawa, aku mencoba untuk mengabadikannya. Aku coba untuk menggambarkan mata itu dan mempelajarinya. Aku masih asyik memainkan tangan dengan pensil dan penghapusku, masih berjarak lumayan jauh namun strategis dengan perempuan itu. 
saat ku menoleh untuk menggambarkan beberapa helai rambut hitamnya yang seolah menyembunyikan mata telanjang itu, objekku menghilang, perempuan itu tidak disana, tidak duduk dengan kaki sila lagi, dia tidak ada disana lagi. Aku menengakkan tubuhku, dan mencari-cari perempuan itu. tapi seseorang berdiri di belakangku, ya aku bisa merasakan kepalanya di pundakku. Dia berusaha melihat gambar abstrak yang ku buat. Aku menoleh dan tersentak. “itu aku?” . pertanyaan singkat dan polos. Aku hanya menganggukkan kepala menandakan ia benar, ya itu dia. Aku merasa malu ketika perempuan itu duduk disampingku, mengambil bukuku dan memperhatikan gambar abstrakku. “ada apa dengan mataku?” ia bertanya. Aku hanya bilang bahwa aku penasaran. Akhirnya aku ceritakan semua padanya, tentang matanya, tentang diamnya, tentang sikapnya dan tentang aku yang sangat heran dibuatnya. Dia tersenyum, hanya senyum tipis. 

Dulu, dia tertawa, sekarang hanya tersenyum tipis. “aku bahkan tidak menyukai mataku. Aku justru menyukai sepasang mata adik kelasku” . aku semakin malu. Aku hanya diam, memainkan pensilku, menundukan kepalaku. “kau tau? Aku mulai menyukai pantai di sore hari. Ketika matahari membuat gambarku hanya seolah bayangan. Ketika aku hanya bayangan. Ketika aku benar-benar tidak terlihat seperti aku saat itu, ketika mataku tidak menunjukan kepolosnya” dia membuat ku melihat matanya, mata kosongnya. Oh Tuhan, aku mengerti sekarang. Ini yang ia bilang ‘kepolosan mata’ . dia membiarkan aku menyelam dalam pandangan polosnya, dalam mata polosnya. “apa yang ingin kau tanyakan?” ia bertanya, mengganggu konsentrasiku membongkar rahasia matanya. “aku hanya ingin tau, apa kau baik-baik saja?” , ya sebenarnya semua ini simple, aku memang hanya ingin tau ada apa dengannya. Dia kali ini tidak tersenyum tipis ke arahku, dia malah menanggah ke atas, mencari sesuatu. “aku rindu bintang. aku rindu keramaian, aku benci kesunyian” . aku tetap melihat matanya, aku melihat mata yang menahan banyak air mata. “ku pikir kau benci keramaian sekarang, dan sangat menyukai kesunyian” jawabku. “ya, kau benar. Aku sedang terjebak. Terjebak dengan kenyamanan aneh, kenyamanan karna merasa sendiri, sepi. Dan aku akan sangat kesal bahkan menangis ketika aku di tengah keramaian”.
Aku terus menerawang matanya. “kau menyimpan ya?” , tebakku sok tahu.
Dia melontarkan senyum tipisnya, “ya. Aku menyimpan banyak sekali perasaan aneh. Apa lagi yang kau tahu?”
Dia bertanya padaku, dan mulai membalas pandanganku. Dia membiarkan aku membaca kalimat sulit dimatanya. “perasaan yang salah. Di keadaan yang salah? Tersiksa?”. dia menganggukkan kepala tanda setuju, dan memberikan ku kesempatan untuk membaca matanya lagi. “kau merasa kehilangan? Tapi ku rasa, kau cukup merasa senang. Kau menyayangi dan disayangi. Lalu apa lagi?” . dia diam. Aku diam. dia menunduk, membiarkan rambutnya sedikit menutupi wajahnya, tangannya mengepal. Ku rasa itu caranya bertahan, menahan air mata. “aku egois. aku merasa kehilangan. Aku bahkan sangat kesepian. Entahlah. Aku menjadikannya sahabat, dan meyakinkan diriku bahwa aku menyayanginya sebagai sahabat dan berusaha tidak lebih dari itu” . dia diam sebentar. Aku meneruskan perkataannya “tapi kau merasa sulit menerima dan tidak merasa bahagia saat sahabatmu itu bahagia karna dekat dengan yang lain? Yap. Kau egois”. aku makin sok tahu.
Dia semakin diam. dia mulai kembali membiarkan aku membaca matanya. Dia bilang “aku akan memaksa diriku untuk bahagia. Sebelum hal ini terjadi, aku menyimpan perasaan aneh untuk seseorang yang mulai benar-benar hilang dariku. Aku rasa akan tetap menyukai kamarku yang gelap sebelum mataku lelah dan telelap. Aku akan benar-benar membunuh perasaanku. Dan aku akan merindukan ‘kelingking bertemu kelingking’ . entah dia akan merindukan aku atau tidak. aku mulai tersiksa tapi dia pernah lebih tersiksa karna aku. Mungkin ini karma” . aku membereskan pensil dan penghapus, memasukkannya ke tas coklatku. Aku bangkit dan berkata “nikmati itu. rasakan apa yang pernah orang itu rasakan, tersiksa. Selamat ya” . lalu aku pergi meninggalkannya, dan membiarkan gambarku tetap di tangannya. Semoga perempuan itu banyak belajar, dan ku rasa, aku mendukung matanya untuk tidak memperlihatkan kepolosannya.

21:23 . 12 sept 12. Kamar.


Komentar