LORONG BINTANG


“kenapa di namakan lorong bintang nyai?” tanya seorang anak berbaju merah yang tidak terlihat merah lagi. “iya nyai, padahal kan kita tidak di terowongan atau kolong jembatan” tambah seorang anak berbaju putih lusuh. Sekitar 35 anak kecil berusia 4 sampai 12 tahun ada disana, setiap hari. Di sebuah rumah kayu yang tidak terdapat tempat tidur atau perabotan rumah pada umumnya. Yang ada hanya rak-rak buku yang tebuat dari kayu, satu set meja dan kursi ruang tamu yang terbuat dari kayu, di halangi pembatas ruangan yang juga terbuat dari kayu jati asli dan permadani panjang berwarna hijau toska dengan bantal-bantal dan boneka-boneka. Ruangannya hanya terbagi 3,yaitu ruang tamu yang di batasi pembatas ruangan, ruang tengah yang selalu ramai dengan anak-anak kecil membaca buku atau mendengarkan dongeng-dongeng dan dapur kecil lengkap dengan kamar mandinya. “tok..tok..tok.. assalamualaikum....” sapa seorang wanita di balik pintu yang tidak terbuka begitu lebar itu, serentak di balas dengan semangat oleh anak-anak “waalaikum salam” . masuk lah seorang wanita berpakaian kantor yang rapih berwarna merah marun namun tetap sopan dengan tidak memakai sepatu saat melangkahkan kakinya ke dalam rumah kayu dengan lantai semen. “ka ritaaaaaaaa” teriak seorang anak perempuan sambil menghampiri wanita yang di panggil rita tersebut, “halo cici” balas wanita itu dengan ramah kemudian memeluk anak perempuan tersebut, “halo semuanya” tambah ka rita. Semua menghampiri ka rita yang membawa 2 kantong belanjaan yang lumayan besar berisi makanan ringan, “semuanya kebagian ya, jangan perebutan loh. Satu-satu ya semuanya” sambil melengkah sedikit menjauh dari kerumungan anak-anak kecil yang asyik dengan 2 kantong belanjaan yang ia bawa, Ka rita menghampiri nyai endah yang tengah tersenyum bangga dan bahagia melihat ka rita dengan ke suksesannya sekarang, nyai endah duduk di sebuah kursi goyang yang tua dengan tangan kanan mengelus-elus dadanya, air mata kebahagiaan ada di sela-sela senyum menawannya. 
      “nyai, rita kangen” dengan hangat ka rita memeluk nyai endah. nyai endah mencium kepala ka rita dengan penuh kasih, membelainya dan tersenyum haru. “nyai, rita minta maaf karna jarang ke sini lagi, rita agak sibuk belakangan ini” nyai endah tetap membelai halus rambut ka rita dan berkata “nyai bangga padamu rita, terimakasih untuk semuanya yang kamu dan teman-teman kamu berikan” balas nyai endah. “ini semua tidak sebanding dengan apa yang nyai berikan kepada kami. oh ya, uu dan imah sebentar lagi sampai nyai” sambil menghapus air mata yang membelai pipi keriput nyai endah yang berumur 74 tahun. Tak lama terdengar suara 2 orang laki-laki dan satu orang perempuan mengucap kan salam dari luar rumah kayu itu, “nah itu pasti uu dan imah, nyai” tebak ka rita. Air mata penuh rasa bangga yang mengalir dari mata sayu nyai endah semakin menjadi ketika ka imah, ka uu, dan ka rian datang dan langsung memeluk nyai endah. “loh ada rian? Kemana aja?” ledek ka rita sambil mencubit kecil lengan laki-laki berusia 25 tahun tersebut. “rian kangen nyai, rian gak akan mau kehilangan moment ini jadi rian cancel meeting hari ini. Sengaja gak bilang ka rita soalnya sering di curangin ka rita tiap mau kesini, hehehe” semuanya tertawa, termasuk nyai endah.
    dengan lengan yang mendekap hangat tangan ka imah dan membelai rambut ka uu. Suasana disana ramai saat itu, selain anak-anak yang semakin di sibuki oleh buku-buku dongeng yang ka rian bawa, roti-roti yang ka imah bawa dan beberapa mainan yang dapat membantu perkembangan otak anak yang di bawa oleh ka uu, suasana disana semakin ramai karna canda tawa 4 anak asuhan nyai endah yang kini beranjak dewasa. “kalau liat mereka, rasanya mau balik ke zaman dulu ya, waktu kita sama sekali gak kenal yang namanya malu, waktu semuanya tuh bahagia, ah indah banget” ucap ka imah sambil melihat anak-anak yang sedang asyik membaca dan bermain bersama. Mereka berempat saling berpelukan, “nyai sangat bangga pada kalian semua. tapi nyai sudah bilang, jangan repot-repot membawakan perabotan mewah atau apapun, nyai tidak mau merepotkan kalian” ucap nyai endah lembut, “nyai, kami sama sekali tidak merasa di repotkan. Apa arti ini semua di bandingkan segala-galanya yang nyai berikan?” balas ka rita, “kalau ingat bagaimana nyai merawat kami, rasanya kami tidak dapat membalasnya, nyai begitu berperan dalam hidup kami” tambah ka rian, “kesuksesan kalian sekarang itu karna kalian, bukan karna nyai” tambah nyai endah dengan senyuman hangat di antara keriput-keriput yang mulai terlihat di wajah penuh kasih sayangnya. “tapi nyai yang memotivasi kami, nyai yang menuntun kami” tambah ka uu, suasana yang haru di antara keceriaan anak-anak kecil itu membuat nyai endah semakin tersenyum dan menangis dengan rasa bangga terhadap ke empat anak asuh yang dulu ia temukan di antara pekerjaan paling tidak layak. Untuk membunuh keharuan yang ada di antara mereka, ka uu memanggil anak-anak itu untuk berkumpul mendekat, menjanjikan beberapa cerita seru. Anak-anak serentak mendekat dan berusaha duduk di dekat ka uu, ka imah, ka rita, dan ka rian. “kalo kaka-kaka mau bercerita, kalian mau dengar gak?” tanya ka uu, serentak mereka menjawab “mauuuuuuuuuuuuuuuuu” .
      ka uu mengambil alih untuk bercerita, “pada zaman dahulu, ada sebuah lahan yang di bangun rumah-rumah kardus. Orang-orang yang tinggal di rumah kardus hidup dengan apa adanya, dengan makan seadanya tetapi untuk sekolah tidak ada sama sekali. suatu hari, datang seorang laki-laki berpakaian rapih dan mewah ke tempat tersebut, dan menyatakan bahwa lahan itu akan di gusur. Orang-orang yang tinggal di rumah kardus itu marah tetapi tidak dapat melakukan apa-apa. Sampai tiba hari penggusuran, seorang wanita tua salah satu penghuni rumah kardus itu menghampiri laki-laki kaya tersebut. Terjadi pertengkaran yang cukup hebat dan mengejutkan” anak-anak terlihat sangat antusias, semua mendengarkan dengan seksama. Cerita di lanjutkan oleh ka imah “pertengkaran mereka adalah pertengkaran terbuka, jadi semua yang tinggal di sana dapat melihatnya termasuk anak-anak kecil. Laki-laki itu berkata ‘kalian tidak ada hak atas tanah ini. Percuma kalian memberontak’ , dan wanita tua itu menjawab dengan tegas ‘saya akan membeli tanah ini’ . semua orang-orang menganggap wanita tua itu gila, dan laki-laki kaya itu menertawakannya sambil berkata ‘dengan apa? Makan saja tidak bisa’ dan laki-laki itu tertawa dengan keras, lalu wanita itu mengeluarkan tas dan membukanya, menunjukan isi tas tersebut dan berkata ‘apakah dengan ini cukup?’ . laki-laki itu tersentak dan tak percaya, menuduh wanita tua seorang pencuri. Orang-orang yang ada disana pun tidak mempercayai bahwa isi tas tersebut adalah uang. Wanita tersebut meminta laki-laki kaya itu untuk menghubungi seorang pengacara dan memintanya datang. Tak lama datanglah seorang laki-laki dengan mobil mewah ke sana, dia adalah pengacara si wanita tua. Pengacara menjelaskan bahwa wanita tua itu adalah seorang pengusaha sukses yang memutuskan untuk pensiun dan mengisi hari tuanya di permukiman kardus. Semua yang ada disana kaget, sebelum menandatangani surat pembelian tanah wanita itu berkata ‘marilah kita sama-sama membangun tempat ini’ , semua penghuni rumah kardus teriak kegirangan dan semua berteriak ‘ayoooooo!!!!’ “ semua anak-anak kecil itu berteriak “horeeeee” , seorang anak bertanya, “wanita tua itu tinggal sendiri?” ka rian menjawab, “wanita tua itu hidup sebatangkara. Dia tidak memiliki anak ataupun cucu karna dari dulu yang ia pikirkan hanyalah mengubah nasibnya sebelum wanita tua itu menjadi pengusaha sukses. Jadi ia tidak menikah dan memiliki anak. tetapi karna kejadian itu permukiman karduslah yang menjadi keluarganya, permukiman kardus itu sudah menjadi lebih baik, dan di bangunlah sebuah rumah belajar yang di namakan Lorong Bintang. di namakan Lorong Bintang kerena Lorong di umpamakan sebagai jalanan kecil yang gelap dan Bintang adalah cahaya sebagai tujuan” semua anak-anak disana terkagum-kagum. Seorang anak laki-laki bertanya, “jadi wanita tua itu siapa?” sambil memeluk nyai endah yang tengah tersenyum haru, ka rita menjawab “wanita tua itu biasa di panggil Nyai Endah” . –selesai- (13 11 12 / 23:57)

Komentar