kepada .........

Teruntuk kamu,
yang berkemungkinan kecil membaca tulisan konyol ini.

Seperti mereka yang menulis surat, dan persis seperti yang guruku ajarkan sejak sekolah dasar, 'halo' adalah kata pertama untuk memulai, setidaknya mencoba untuk memulai
jadi, HALO.
kemudian, aku akan tanyakan kabar, agar benar-benar persis seperti yang guruku katakan, menanyakan kabar adalah hal yang sopan, iya kan?
jadi, APA KABAR?
dan kemudian, selipkan doa di belakang kalimat tanya di atas, seperti; SEMOGA BAIK-BAIK SAJA.
okay, aku akan mulai surat bodoh ini, untuk pertama kali, dan mungkin terakhir. pertama dan terakhir dalam waktu yang bersamaan, lucu ya?
jelas tidak, setuju kan?
aku tau, sangat kecil kemungkinan kamu untuk memahami makna tersirat, atau bahkan makna yang aku tunjukan secara terang-terangan seperti ini, atau seperti sebelumnya, atau sebelumnya lagi dan sebelum-sebelumnya. begitulah, kamu memang payah dalam memahami arti kata yang tersembunyi.
tidak kok, aku sedang tidak membahas perbedaan imajinasi atau apapun itu, yang tidak sejalan di otak kita, seperti kamu mendaki gunung menggunakan iramamu, dan aku mencoba terbang dengan kata-kataku. perbedaan, right?
untuk ke-se-juta-kali-nya aku katakan, mari kita tinggalkan pembahasan seperti di atas tadi, kamu pasti setuju.
bagaimana kalau aku tawarkan pembahasan lain?
seperti pengulasan kesalahan?
atau pertanggung jawaban atas apa yang di mulai (lagi) tanpa di akhiri secara nyata?
jadi, kamu tertarik?

sepertinya, aku akan mencoba untuk mengakhiri surat-tanpa-penerima ini, dengan kalimat yang cukup santun, seperti: "TERIMA KASIH, kasih."

Salam,
your WAAS.



Komentar