apakah Tuhan merestui?
bintang seharusnya selalu mencintai warna beige, yaitu warna langit pada malam hari. karena bintang akan terlihat di warna itu. tapi tidak menutup kemungkinan, bahwa bintang mengagumi warna yang muncul alami sebelum kehadirannya datang.
singkatnya, perpaduan indah di langit senja, warna gamboge. jadi, apakah salah ketika bintang diam-diam memperhatikan pertunjukan sang gamboge sambil menanti waktu untuknya datang?
memang mungkin, bintang di haruskan selalu mencintai beige, warna yang saling melengkapi untuknya. karna bintang akan selalu tertimbun dan tak terlihat sedikitpun oleh keseluruhan sang gamboge yang selalu berhasil membuat berjuta pasang mata hanya terfokus padanya.
dengan diam, bintang membayangkan dirinya menjadi matahari.
yang selalu di nanti, menjadi titik fokus, besar, dan yang paling terpenting bahwa matahari dapat berpadu indah dengan gamboge.
sebuah fantasi yang semakin lama semakin gila untuk bintang.
kemudian, beige yang menjadi pelengkap paling sempurna yang di ciptakan oleh Tuhan khusus untuknya, mulai meredam. mempertanyakan berjuta pertanyaan atas sinar bintang.
"tak begitu terlihat lagi, atau malas memperlihatkan sinarnya" , setidaknya begitulah yang beige fikirkan.
lalu bintang bagaimana?
ia tetap memperhatikan dengan semakin dekat, dan bermimpi menyentuh gamboge-walau sebentar. namun di balik itu semua, bintang berpegang erat untuk bersama beige, walau bintang tidak mengetahui alasan terindah untuk itu.
ketika hari berganti, dan bintang bersiap untuk mempertunjukan sinarnya, beige malah tampak muram. beige membiarkan gumpalan awan menutupnya, dan tentunya menghalangi bintang untuk sinarnya.
awalnya sedikit, lama-lama menjadi tebal, semakin hari semakin banyak dan kian lama, awan membuat bintang berjauhan dengan beige.
mungkin singkatnya begitu yang terjadi, sebelum pada akhirnya malam hari menceritakan kisah mereka dengan gerimis yang semakin lama menjadi hujan lebat.
menyedihkan.
simpulkan saja bintang yang salah. dan beige dengan kemuraman yang menjenuhkan. lalu, gamboge yang menjadi fantasi gila untuk bintang.
untuk kesekian kalinya, bintang berteriak sekencang hantaman petir.
"Tuhan melukismu untukku, beige. untuk saling menyempurnakan diri denganmu. dan Tuhan merestui kita. kamu tidak membuatku tertimbun dan aku membuatmu cerah"
lalu ia mendekam suaranya semakin perlahan, "dan Tuhan membuat aku mendamba kamu, namun berbeda membuat kita bertanya. apakah kita di restui? gamboge, kamu dengar itu?"
singkatnya, perpaduan indah di langit senja, warna gamboge. jadi, apakah salah ketika bintang diam-diam memperhatikan pertunjukan sang gamboge sambil menanti waktu untuknya datang?
memang mungkin, bintang di haruskan selalu mencintai beige, warna yang saling melengkapi untuknya. karna bintang akan selalu tertimbun dan tak terlihat sedikitpun oleh keseluruhan sang gamboge yang selalu berhasil membuat berjuta pasang mata hanya terfokus padanya.
dengan diam, bintang membayangkan dirinya menjadi matahari.
yang selalu di nanti, menjadi titik fokus, besar, dan yang paling terpenting bahwa matahari dapat berpadu indah dengan gamboge.
sebuah fantasi yang semakin lama semakin gila untuk bintang.
kemudian, beige yang menjadi pelengkap paling sempurna yang di ciptakan oleh Tuhan khusus untuknya, mulai meredam. mempertanyakan berjuta pertanyaan atas sinar bintang.
"tak begitu terlihat lagi, atau malas memperlihatkan sinarnya" , setidaknya begitulah yang beige fikirkan.
lalu bintang bagaimana?
ia tetap memperhatikan dengan semakin dekat, dan bermimpi menyentuh gamboge-walau sebentar. namun di balik itu semua, bintang berpegang erat untuk bersama beige, walau bintang tidak mengetahui alasan terindah untuk itu.
ketika hari berganti, dan bintang bersiap untuk mempertunjukan sinarnya, beige malah tampak muram. beige membiarkan gumpalan awan menutupnya, dan tentunya menghalangi bintang untuk sinarnya.
awalnya sedikit, lama-lama menjadi tebal, semakin hari semakin banyak dan kian lama, awan membuat bintang berjauhan dengan beige.
mungkin singkatnya begitu yang terjadi, sebelum pada akhirnya malam hari menceritakan kisah mereka dengan gerimis yang semakin lama menjadi hujan lebat.
menyedihkan.
simpulkan saja bintang yang salah. dan beige dengan kemuraman yang menjenuhkan. lalu, gamboge yang menjadi fantasi gila untuk bintang.
untuk kesekian kalinya, bintang berteriak sekencang hantaman petir.
"Tuhan melukismu untukku, beige. untuk saling menyempurnakan diri denganmu. dan Tuhan merestui kita. kamu tidak membuatku tertimbun dan aku membuatmu cerah"
lalu ia mendekam suaranya semakin perlahan, "dan Tuhan membuat aku mendamba kamu, namun berbeda membuat kita bertanya. apakah kita di restui? gamboge, kamu dengar itu?"
metafora bisa membuat lebih dekat atau lebih jauh ke bayangan yg ada, sebagian besar dari mereka menengadah ke arah datangnya cahaya dibanding tertunduk melihat bayangan yg terbentuk. seenggaknya, itu menurut gue.
BalasHapusiya bapak fisikawan :p
BalasHapus